Sharing Ilmu
Bahasa JawaTari Sebagai Media Pembentukan Karakter dan Pelestarian Budaya Tradisi
Tari Sebagai Media Pembentukan Karakter dan Pelestarian Budaya Tradisi
Penulis : Dwi Setyaningsih, S.Si
Kesenian telah lama menyatu dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang kental akan budaya. Budaya bersifat kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan segala kemampuan dan kebiasaan yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat (Tylor 2010). Dalam kehidupan sehari-hari manusia sebagai anggota masyarakat yang harus hidup berdasarkan norma dan perilaku sosial juga memiliki keinginan untuk pemenuhan rasa sebagai bentuk pengetahuan serta kepercayaan yang telah lama melekat dalam sanubarinya. Tari sebagai bentuk kesatuan dari sebuah kesenian tentu tidak lepas dari adat tradisi yang selama ini berkembang di masyarakat. Cerita rakyat ataupun legenda nyatanya sudah kerap bahkan mandarah daging sebagai wujud dari pengetahuan folklore yang harus serta merta melekat pada dasar kehidupan mereka sebagai bentuk pelestarian budaya. Suatu bentuk tarian tercipta karena adanya perasaan mengilhami sebuah sejarah seni ataupun bentuk kesenian itu sendiri, begitu halnya pada bentuk tari yang ditampilkan pada lakon lakon tertentu.
Melalui kreatifitas seni guna menjaga kelestarian budaya perlu adanya bentuk pewarisan seni tradisi. Pewarisan seni tradisi tidak hanya dapat dilakukan melalui kegiatan yang dibangun di sanggar-sanggar seni (informal) saja. Pewarisan juga sangat mungkin untuk dilakukan melalui dunia pendidikan formal. Melalui pembelajaran Seni Budaya dan Prakarya (SBdP) seni tari khususnya dapat ditularkan kepada generasi muda. Tentunya dalam hal ini guru harus mampu menguasai bidang seni tari itu sendiri, setidaknya dalam hal mencipta dan mengkomposisi tari sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik. Dalam dunia pendidikan formal, pendidikan seni tari tidak menuntut siswa untuk menjadi seorang penari yang profesional. Artinya produk tari yang dihasilkan bukanlah untuk kebutuhan pentas, melainkan adalah proses kreatif siswa. Seperti yang diungkapkan oleh Sal Murgianto dalam Masunah (2003) bahwa nilai tari dalam dunia pendidikan tidak terletak pada latihan kemahiran atau keterampilan gerak saja, tetapi lebih kepada kemungkinan untuk membuat siswa mampu mengembangkan daya ekspresinya.
Dalam pembelajaran tari, yang menjadi penilaian adalah bukan bagus atau tidaknya tari yang dihasilkan, melainkan adalah proses kreatif yang mereka lalui hingga sikap positif yang terbentuk melalui pembelajaran tari. Misalnya percaya diri, mampu bekerjasama, berani mengambil keputusan, mampu bersosialisasi, mampu mengungkapkan pendapat dan lain sebagainya. Ide dalam membuat tari dalam pendidikan formal bisa saja berasal dari lingkungan dan aktivitas manusia. Guru juga bisa mengarahkan proses kreatif ini pada seni tradisi yang ada di daerah masing-masing. Dalam hal ini, guru tidak mengajarkan tarian bentuk, tetapi guru menstimulus siswa untuk membuat tarian baru dari tari tradisi yang sudah ada
Baro Klinting adalah salah satu legenda yang cukup populer di daerah Jawa Tengah. Legenda ini dipercaya sebagai cerita rakyat tentang asal-usul terbentuknya Rawa Pening, danau alami yang ada di Kabupaten Semarang. Siapa tahu ternyata suatu tempat memiliki cerita menarik dari yang disampaikan secara tutur tinular atau sering kita sebut kisah ini sebagai folklore. Dengan media tari, kisah Baro Klinting ini dideskripsikan dalam bentuk tari yang sangat memukau. Selain bentuk Gerak tari yang sangat indah, tata busana maupun tata rias yang digunakan juga sebagai faktor pendukung terciptanya alur cerita yang mengilhami para penontonnya untuk tetap memperhatikan pertunjukan ini sampai selesai. Selain bentuk seni, pesan moral juga diutamakan dalam bentuk pagelaran yang disajikan dalam pertunjukan tari ini. Dalam pembelajaran seni, banyak pula cara yang bisa ditempuh untuk mempertahankan seni tari tradisi yang ada serta pembentukan karakter siswa yang tentunya secara keseluruhan diharapkan membawa dampak yang baik di kemudian hari.